Senin, 31 Juli 2017

Batik Indonesia : Genjot Ekonomi Kreatif Indonesia

Bicara batik memang nggak ada matinya. Salah satu kerajinan khas Indonesia yang sudah diakui UNESCO sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia ini tentunya punya peluang besar dalam menggenjot sektor ekonomi kreatif di Indonesia.

Data dari Kementrian Perindustrian Republik Indonesia, Batik Indonesia mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian nasional. Nilai ekspornya sudah mencapai 151,7 juta sepanjang tahun lalu. 

Hal ini tentunya menjadi angin segar bagi pemerintah dan produsen batik terus melakukan inovasi dalam urusan pelestarian salah satu kain khas yang ada di Indonesia. Jika tidak, maka siap-siap batik Indonesia bakal kalah saing. 

Dalam konsep ekonomi kreatif, sesuatu yang kurang begitu bernilai harus disulap menjadi sesuatu yang punya daya jual yang tinggi di mata masyarakat. Prinsip tersebut yang harus dipegang betul oleh beragam pihak yang peduli dengan Batik Indonesia. 

Beberapa produsen sudah mulai berjalan menuju arah tersebut. Misalnya Batik Keris, produsen Batik Indonesia Online yang selain berbisnis juga memang punya tujuan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia lewat seni desain dan pakaian. 

Lewat mereka, beragam kain batik mampu disulap menjadi pakaian yang bernilai jual lebih tinggi. Misalnya, mereka tak hanya memproduksi kemeja batik untuk kegiatan formal belaka. Lebih dari itu, mereka juga menyediakan pakaian batik yang cocok untuk dibawa bersantai ria.

Bahkan, mereka juga tak ingin melewatkan pasar di kalangan perempuan. Lewat tangan-tangan kreatif yang ada dalam Batik Keris, mereka juga memproduksi dress dan blouse yang cocok bagi wanita yang ingin tampil dengan anggun. 

Belajar dari Batik Keris, kita tentunya memahami bahwa untuk menumbuhkan perekonomian negara, sudah saatnya, berbagai pihak mulai berpangku tangan untuk mengembangkan beragam industri kreatif yang ada di Indonesia dengan beragam inovasi yang tak menghilangkan identitas seutuhnya. 

Tentunya, hal ini tak bakal terwujud jika hanya satu pihak saja yang bergerak. Pemerintah dengan kebijakannya, produsen dengan inovasi-inovasi produknya, serta masyarakat yang aktif mengkampanyekan dan mengenakan produk-produk ekonomi kreatif harus berjalan beriringan. 

Bukan tak mungkin, jika beberapa puluh atau beberapa tahun lagi, Indonesia berhenti ketergantungan terhadap Sumber Daya Alam (SDA) sebagai salah satu kontributor perekonomian terbesar di Indonesia dan beralih kepada industri kreatif yang mengusung konsep ekonomi kreatif.

0 komentar:

Posting Komentar